Taufiq Hidayat

Hidup (incl. Informatika) hanyalah untuk Allah Ta’ala

Bookmark and Share

Teori Evolusi (Bagian 1) : Teori Tanpa Bukti

Posted by Taufiq Hidayat on October 10th, 2009

Pasti setiap orang yang pernah masuk SMP mengenal Teori Evolusi. Teori ini dicetuskan oleh seorang yang bernama Charles Darwin. Salah satu yang pasti diingat setiap orang yang pernah belajar Teori Evolusi adalah "Manusia itu keturunan kera". Begitu terkenalnya kalimat itu sehingga hampir setiap orang hapal di luar kepala.

Dunia informatika pun terpengaruh dengan teori ini. Salah satunya adalah algoritma genetika. Algoritma genetika ini diklaim sebagai adopsi dari teori evolusi. Tidak heran kalau setiap mengajar kuliah ini selalu akan menyinggung teori tersebut. Saya, yang termasuk pernah mengajar materi itu, merasa bersalah juga. Bagaimana pun juga teori ini adalah teori yang belum pernah dibuktikan.

Di tulisan ini, saya sedang tidak membuat tulisan ilmiah. Tetapi hanya sekedar sharing pemikiran bahwa teori ini sebenarnya tidak layak diajarkan karena memang belum pernah dibuktikan sama sekali. Apa yang disampaikan dalam teori ini baru sekedar pendapat seseorang, yang menuntut pengikutnya untuk membuktikan. Tetapi apa yang disampaikan dalam pelajaran seolah-olah tidak menyinggung masalah ini. Seolah-olah teori evolusi itu adalah sebuah kebenaran mutlak yang harus diyakini.

Seperti kita ketahui, di dunia sains, kita mengenal istilah teori sebagai sesuatu yang perlu dibuktikan (lihat definisi). Biasanya pencetus teori akan menunjukkan cara pembuktian jika saat itu dia belum dapat membuktikan sendiri karena suatu kendala.

Demikian juga dengan Charles Darwin. Dia juga sudah memberikan cara-cara untuk membuktikan bahwa teori yang diusulkan adalah benar. Yang dia sampaikan adalah teori evolusi akan benar jika ditemukan fosil-fosil makhluk intermediate dalam jumlah yang sangat besar. Kalau tidak, maka teori evolusi tersebut belum bisa dinyatakan benar.

Kenyataannya, sampai saat ini belum pernah ditemukan 1 jenis fosil makhluk intermediate yang dimaksud. Apalagi dalam jumlah yang sangat besar. Apalagi untuk semua kemungkinan jenis fosil makhluk intermediate, yang kalau dihitung pastilah kita tidak dapat menghitungnya. Sebagai contoh dari makhluk gorilla menjadi manusia, terdapat ratusan bahkan ribuan makhluk intermediate. Memang pernah ada klaim bahwa manusia purba adalah makhluk intermediate ini. Tetapi ini perlu dibuktikan lebih lanjut. Pertanyaanya: dimana fosil-fosil yang seharusnya ada dalam jumlah yang sangat banyak ini?

Jadi, menurut Charles Darwin sendiri, teori ini sebenarnya belum dapat dibuktikan kebenarannya. Sungguh aneh kalau ada orang yang mempertahankannya. Ini benar-benar menyalahi prinsip ilmiah. Bahkan seolah-olah pendukung teori ini menutup mata dan menyembunyikan kenyataan ini. Sebuah kebohongan ilmiah yang merusak dunia ilmiah.

6 Responses to “Teori Evolusi (Bagian 1) : Teori Tanpa Bukti”

  1. arwan Says:

    Ketika saya dulu mengajarkan komputasi evolusioner, saya menjelaskan bahwa dasar pemikiran ini adalah teori evolusi. Tapi saya juga jelaskan bahwa teori evolusi itu tidak ilmiah dan juga bertentangan dengan hukum penciptaan.
    Yang kemudian kami sepakati tentang komputasi evolusioner adalah bahwa teori ini sebenarnya juga muncul dalam perkembangbiakan makhluk hidup. Ada fitness, pindah silang, ada kemungkinan mutasi, dan lain-lain. Dan ini semua tidak hanya terjadi dalam evolusi, tapi juga terjadi dalam perkembangbiakan yang biasa.
    Kalau misalkan namanya kita ganti saja gimana ya, Pak? Karena prinsip evolusi bertentangan dengan prinsip penciptaan, maka kita ganti bukan "komputasi evolusioner", tapi "komputasi perkembangbiakan". Secara prinsip algoritma masuk, secara prinsip keyakinan juga masuk.
    Gimana, pak?

  2. Taufiq Hidayat Says:

    @Pak Arwan,
    Menarik juga, Pak.
    Tetapi masih ada satu hal yang mengganjal, yaitu konsep bertahan hidup. Konsep ini melahirkan seleksi alam, yang akan menyeleksi individu terbaik (fitness).
    Di alam, konsep ini tidak selalu terjadi, karena secara umum dalam suatu komunitas (satu jenis binatang) individu itu saling tolong-menolong. Pernah saya menonton film binatang, yang menceritakan bagaimana individu yang kuat akan berusaha menolong individu yang lemah saat ada pemangsa. Individu yang kuat berusaha menyediakan makanan terhadap individu yang lemah. Jadi, kecil sekali kemungkinan akan terjadi persaingan antar individu.
    Konsep bertahan hidup ini lebih cocok kalau diterapkan ke manusia. Sering sekali kita dapati antar orang saling bersaing. Bahkan saling menjatuhkan, baik rebutan harta, wanita, maupun jabatan. Dan yang kuatlah yang akan menang.
    Padahal dalam Islam, konsep ini sangat bertentangan. Contohnya, tidak boleh rebutan jabatan. Contoh yang lain, yaitu hadits larangan melamar wanita yang sedang dalam proses lamaran orang lain. Tidak jauh berbeda dengan harta dan makanan. Seperti, bagaimana sahabat yang mau mati kehausan, lebih utama memberikan airnya ke saudaranya yang juga hampir mati kehausan. Prinsipnya: saudaranya itu lebih diutamakan daripada diri sendiri.
    Yang saya takutkan, prinsip seleksi alam di teori evolusi inilah yang sebenarnya semakin mempersubur saling bersaing di dunia manusia.

    Menyesuaikan ide Pak Arwan, ada ide bagaimana mengganti seleksi alam ini?

  3. Wirawan Winarto Says:

    maaf,
    tulisan ini benar-benar misleading dan tidak valid dari sisi sains. 🙂
    beberapa poin keliru yang perlu saya garisbawahi adalah :

    "manusia itu keturunan kera"
    "teori sebagai sesuatu yang perlu dibuktikan"
    "belum pernah ditemukan 1 jenis fosil makhluk intermediate yang dimaksud"
    "Ini benar-benar menyalahi prinsip ilmiah"

    jujur saja, saya tidak rela jika anda mengkontaminasi pikiran generasi muda kita dengan hal-hal seperti ini. maaf sekali pak, kita tentu mau yang terbaik buat Indonesia. jadi beritahukanlah kebenaran, bukan kebohongan.

    saya pernah membahasnya di sini :
    http://wirawan.blogsome.com/2010/03/23/evolusi-agama/

    semoga mencerahkan
    terima kasih.

  4. Taufiq Hidayat Says:

    @wirawan.
    Terima kasih, Mas Wirawan, atas "teguran"nya.
    Kenapa Mas Wirawan menyalahkan "teori sebagai sesuatu yang perlu dibuktikan"? Mas Wirawan punya definisi sendiri tentang teori? Di dunia ilmiah, teori itu sinonim dengan hipotesis. Namanya hipotesis, itu perlu dibuktikan. Kalau yang tergolong tidak perlu dibuktikan lagi: aksioma, asumsi, fakta.
    Meskipun tidak saya maksudkan ilmiah, bukan berarti saya hanya melakukan dugaan. Yang ingin saya garis bawahi di tulisan saya ini adalah Darwin-nya sendiri. Saya tidak (belum) membahas ke bidang-bidang lain, saya lebih terfokus ke hal yang disampaikan Darwin, yaitu terkait dengan fosil. Dan seperti dikutip oleh Harun Yahya, pernyataan Darwin:
    If my theory be true, numberless intermediate varieties, linking most closely all of the species of the same group together must assuredly have existed... Consequently evidence of their former existence could be found only amongst fossil remains.(1)
    lihat di sini: http://www.harunyahya.com/articles/20evolution01.html

    Itu adalah perkataan Darwin. Dan ternyata itu tidak ada buktinya sampai saat ini. Ingat-ingat :
    - numberless intermediate varieties
    - .... only amongst fossil remains

    Jadi berdasarkan perkataan Darwin sendiri (dan itu memang seharusnya konsekuensi logis dari teorinya), teori evolusi itu tidak didukung bukti.

    Oh ya, saya baru membahas tentang fosil. Saya belum membahas yang lain.

  5. harga blackberry bold Says:

    Makasih Boss.. Infonya mantap

  6. harga blackberry torch Says:

    makasih atas tipsnya

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>