Taufiq Hidayat

Hidup (incl. Informatika) hanyalah untuk Allah Ta’ala

Bookmark and Share


  • RSS Video Kajian

  • RSS Die Ehrlichkeit

    • Monoteisme dan Evolusi (2): Bukti-Bukti Monoteisme dan Perubahan Menjadi Politeisme
      Pada bagian 2 ini, saya tambahkan subjudul untuk mempermudah pemahaman. Subjudul ini tidak ada di makalah aslinya.Monoteisme Bangsa PrimitifSehingga, kita menemukan keyakinan terhadap satu Tuhan yang Maha Besar diantara semua suku-suku yang disebut primitif, yang telah ditemukan. Suku Maya di Amerika Tengah meyakini satu Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, yang mereka panggil Itzamna [11], Kaum […]
    • Monoteisme dan Evolusi (1) : Evolusi Agama dan Konsep Monoteisme Islam
      Pengantar PenerjemahTeori evolusi juga mempengaruhi pemikiran tentang lahirnya agama-agama di dunia, yang dikenal sebagai evolusi agama. Menurut teori ini, lahirnya agama adalah hasil dari evolusi keyakinan politeisme/animisme menjadi monoteisme, yang merupakan ciptaan manusia dan tidak ada campur tangan ketuhanan. Seperti teori evolusi, klaim ini tidak didukung oleh bukti sama sekali. Bukti yang berlimpah justeru menunjukkan […]
    • Kebohongan Ilmiah: Pencatutan Nama
      Dalam penulisan karya ilmiah, yang sering terjadi adalah pengutipan perkataan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Penulis karya tersebut bisa dikategorikan sebagai plagiator (penjiplak) walaupun kadang-kadang hal ini disebabkan karena ketidak-sengajaan. Namun, pernah juga terjadi pengutipan perkataan seseorang padahal orang tersebut tidak pernah mengatakannya. Sebenarnya hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dalam penulisan karya ilmiah. […]
    • Fatwa MUI pun Dipalsukan
      Apakah dipikir dengan memalsukan fatwa ulama, Allah subhanahu wa ta'ala juga bisa mereka tipu? Mungkin mereka bisa menipu manusia, tetapi pasti tidak bisa menipu Allah subhanahu wa ta'ala.Inilah Fatwa MUI Palsu yang Menyatakan Faham Syi'ah Tak SesatBEKASI (voa-islam.com) – Di lokasi pengajian, preman bayaran menyebarkan brosur Fatwa MUI yang menyatakan Syi'ah sebagai mazhab Islam yang […]
    • Meninggal Dunia Saat Menunggu Anaknya
      Nenek ini sangat mempercayai anaknya. Anaknya telah mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjemput nenek itu dan telah memberi nomor telepon yang bisa dihubungi, yang ditulis di atas secarik kertas. Namun semuanya hanyalah dusta. Anaknya tidak pernah menjemputnya dan yang ditulis di atas kertas itu bukan nomor telepon.Atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, kepercayaan kepada anaknya […]
    • Bohong Antar Suami-Isteri Berefek ke Orang Lain
      Kadang-kadang orang menyangka bahwa jika ia berbohong di sebuah lingkungan, tidak akan berpengaruh terhadap orang-orang di luar lingkungan. Sangkaan ini tidak tepat. Yang benar adalah sebaliknya, yaitu bisa berpengaruh. Kisah yang akan saya tulis ini adalah contohnya, bahwa kebohongan suami-isteri bisa berpengaruh terhadap hubungan dengan orang lain.Di sebuah kota yang penduduk mayoritasnya adalah non-muslim, hiduplah […]
    • Teori Evolusi (Bagian 3) : Penipuan Fosil si "Missing Link"
      Sungguh tidak bisa dipercaya, para pendukung Teori Evolusi masih percaya dengan teori ini padahal beberapa hal yang memegang kunci penting dalam Teori Evolusi merupakan hasil penipuan. Mungkin mereka berdalih bahwa itu hanya sebagian kecil saja. Masalahnya, akses terhadap fosil hanya dikuasai oleh pendukung Teori Evolusi. Mungkin kalau mereka membuka akses untuk penelitian lebih mendalam tentang […]
    • Antivirus Bervirus
      Perilaku tidak jujur tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar Indonesia. Salah satu contohnya adalah penipuan di bawah ini. Hebatnya, penipuan ini tentu saja hanya bisa dilakukan oleh orang yang pandai terutama di bidang komputer/teknologi informasi. Sangat disayangkan sekali, kepandaian mereka digunakan untuk menipu orang lain.Waspadalah, Banyak Anti-virus yang Ternyata BervirusPiranti lunak anti-virus […]
    • Teori Evolusi (Bagian 2) : Manusia Purba memang ADA
      Makhluk intermediate (spesies-antara) memegang kunci yang sangat penting dalam teori evolusi. Tanpa ada spesies-antara, evolusi makhluk hidup tidak akan pernah terjadi. Misalnya saja, karena manusia dan monyet mempunyai nenek moyang yang sama (sebut saja siamon), ada spesies-spesies intermediate antara siamon dan manusia (misal, man-1 s/d man-n), serta antara siamon dan monyet (mon-1 s/d mon-m). Kalau […]
    • Kepolosan Anak-anak
      Anak kecil itu memang polos. Berpikirnya sederhana. Karena sederhana, mereka cenderung untuk berkata jujur. Selain itu, mereka juga tidak bisa bermain dengan kata-kata. Kata-kata dari orang tua akan dipahami apa-adanya. Janganlah diharapkan mereka bisa melakukan analogi atau pengembangan terhadap apa yang kita sampaikan. Pernah saya mendapat pelajaran dari seorang psikolog bahwa "anak kecil itu bukan […]
  • Updated Blog

"Terbaik + Terbaik" tidak selalu "Terbaik"

Posted by Taufiq Hidayat on September 27th, 2010

Sebelum saya mulai, perlu saya pertegas bahwa kata-kata yang saya pakai adalah tidak selalu, yang mengandung makna bisa iya atau bisa juga tidak.

Ada kisah ringan saat saya masih kecil. Salah satu kakak laki-laki memberiku kuis, "Enak ditambah enak menjadi tidak enak. Coba tebak!". Pikiran kecil saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Di samping itu, bingung juga apakah mungkin sesuatu yang enak ditambah sesuatu yang enak malah menjadi tidak enak. Jawaban dari kakak saya adalah, "Soto enak ditambah tembakau enak". (Catatan: yang dimaksud di sini adalah tembakau dan bukan rokok. Saat itu masih banyak wanita yang menggunakan tembakau sebagai teman makan sirih).

Kisah yang agak serupa saya peroleh saat kuliah. Waktu itu saya membaca sebuah majalah yang sudah lupa namanya (Mohon maaf, kalau cerita ini menyinggung tentang kecantikan wanita). Saat itu dikenal ada beberapa wanita tercantik di dunia. Meskipun begitu, setiap wanita tercantik itu selalu memiliki  bagian yang lebih dibandingkan dengan yang lain. Ada yang memiliki hidung tercantik, pipi tercantik, dahi tercantik, mata tercantik, rambut tercantik, dagu tercantik, dst. Dengan iseng, majalah tersebut mencoba memotong foto bagian-bagian tercantik dari setiap wanita tercantik tersebut. Kemudian bagian-bagian tercantik itu disatukan untuk mendapatkan satu wajah yang baru. Hasilnya adalah wajah seorang wanita yang tidak  lebih cantik dari wanita-wanita tercantik tersebut. Bahkan, bisa dikatakan wajah yang tidak cantik.

Misalkan setiap bagian wajah itu saya sebut sebagai parameter dan tercantik sebagai nilai optimum maka kesimpulan dari kisah tersebut adalah nilai optimum dari komposisi semua parameter tidak selalu diperoleh dari nilai optimum setiap parameter. Bahkan nilai optimum dari setiap parameter tidak selalu menghasilkan nilai yang optimum juga untuk komposisinya.

Di dunia matematika, kisah tersebut dikenal sebagai masalah optimasi. Nilai optimum sesuatu belum tentu diperoleh dengan cara membuat optimum setiap parameter penyusunnya. Ada batasan-batasan tertentu yang perlu dipertimbangkan, yang disebut sebagai constraint.

Untuk memahami makna sederhana constraint, kita kembali ke kisah yang saya kutip di awal tulisan. Masalah optimasi kisah pertama: berapa banyak nilai enak soto dan nilai enak tembakau untuk mendapatkan sesuatu yang paling enak? Constraint yang mungkin untuk masalah ini adalah:

  • soto dan tembakau tidak bisa disatukan. Artinya, kalau ada soto, tidak ada tembakau. Atau, kalau ada tembakau, tidak ada soto.
  • misalkan soto/tembakau ini hanya diperoleh dengan cara membeli, maka nilai enak soto/tembakau tergantung pada anggaran dana yang dimiliki.

Sedangkan constraint untuk kisah kedua adalah nilai keserasian atau proporsi antar parameter. Belum tentu hidung tercantik akan serasi jika dipadukan dengan mata tercantik. Dalam kisah sebenarnya, pemilik hidung tercantik (yang juga tergolong wanita tercantik) tidak memiliki hidung tercantik, pipi tercantitk dan lain-lain.

Tentu saja kedua kisah tersebut akan sulit di-matematika-kan. Dan itu bukan tujuan tulisan saya. Yang ingin saya sampaikan adalah semua masalah terkait dengan "optimasi" di kehidupan sehari-hari kita tidak jauh berbeda dengan masalah optimasi di matematika, selalu ada constraint terhadap parameter-parameternya, yang tidak boleh kita abaikan.

Saya ambil contoh sederhana adalah berapa banyaknya kopi untuk membuat minuman kopi yang enak. Bagi yang suka pahit, tetap saja ada constraint untuk jumlah kopi yang akan ditambahkan yang tergantung pada jumlah air yang ada di gelas. Bagi yang suka manis, ada constraint berupa perbandingan antara kopi dan gula serta air.

Bahkan sebuah amalan di Agama Islam pun tetap ada constraint. Contohnya adalah sholat malam. Benarkah kita akan mendapatkan pahala yang banyak jika sepanjang malam di setiap malam kita melakukan sholat malam? Jawabannya adalah tidak karena di antaranya ada constraint bahwa ada  yang punya hak terhadap diri kita yang juga harus kita tunaikan, yaitu tubuh kita yang berhak untuk istirahat dan isteri kita.

Contoh lain, benarkah jika kita mewasiatkan semua harta ke orang lain saat kita meninggal? Ada constraint untuk menjawab pertanyaan ini:

  • 1/3 dari harta sudah terlalu banyak jika diwasiatkan
  • meninggalkan keluarga dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik

Dalam hal amalan di Agama Islam ini, constraint yang saya maksud ini harus berdasarkan dalil bukan berdasarkan pikiran/akal kita.

Termasuk masalah optimasi adalah pendapat berkaitan dengan hadits berikut ini. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” (HR. Muslim), yaitu laki-laki dan wanita diperbolehkan menampakkan keindahan di mana saja. Seberapa keindahan yang boleh ditampakkan oleh wanita? Kalau hanya memperhatikan hadits itu, sepertinya tidak ada batasan karena Allah mencintai keindahan. Namun kita melupakan constraint di ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih yang lain. Sebagai contoh adalah

  1. Tidak boleh menampakkan perhiasan, kecuali yang tertampak (QS. An-Nuur:31)
  2. Hanya boleh menampakkan perhiasan (point 1) ke orang-orang tertentu (QS. An-Nuur:31)
  3. Tidak boleh berhias (QS. Al-Ahzaab:31)
  4. Mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh (QS. Al-Ahzaab:59).

Banyak contoh lain yang berhubungan dengan masalah optimasi ini. Apalagi kebanyakan orang menginginkan menjadi yang terbaik dan mendapatkan segala sesuatu yang terbaik pula. Tidak terkecuali kita. Namun, semoga saja kita tidak salah mengenali parameter-parameter untuk menjadi terbaik dan constraint-nya.

6 Responses to “"Terbaik + Terbaik" tidak selalu "Terbaik"”

  1. Wanita Beuaty Says:

    Blog asoy, bagus-bagus artikel. Dah aku bookmark, semoga update..

  2. gavee Says:

    Nice post, enak dibaca.
    Salam: ac-elektrik.com

  3. Gendongan Bayi Says:

    Asik banget ceritanya...lanjut dong ceritanya

  4. jam tangan murah Says:

    Ma kasih buanyak pa ats infonya.

  5. harga blackberry bold Says:

    Salam mampir aja ah ...

  6. Muhammad Februriyanto Says:

    Muhammad Februriyanto...

    [...]Taufiq Hidayat » Blog Archive » “Terbaik + Terbaik” tidak selalu “Terbaik”[...]...

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>