Taufiq Hidayat

Hidup (incl. Informatika) hanyalah untuk Allah Ta’ala

Bookmark and Share

Ruqyah adalah Sugesti?

Posted by Taufiq Hidayat on November 17th, 2013

Sebagian (besar?) orang menduga bahwa sihir hanyalah perasaan belaka. Perasaan korban atau orang-orang sekitarnyalah yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah korban sihir. Misalnya, seseorang pernah diancam orang lain akan disantet. Beberapa saat kemudian ternyata orang tersebut sakit. Jika orang tersebut meyakini bahwa dia disantet oleh orang yang mengancam itu maka keyakinan tersebut hanyalah perasaan belaka.

Selain itu, sebagian orang lagi menduga bahwa ruqyah, pengobatan dengan doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur'an untuk sakit akibat sihir ataupun sakit biasa, adalah sugesti belaka. Seseorang sembuh setelah diruqyah karena dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa sakitnya akan hilang dengan cara diruqyah. Dengan keyakinan yang kuat tersebut, tubuh akan bereaksi melawan sakit secara otomatis hingga dia pun sembuh.

Kisah nyata berikut ini mungkin bisa menyangkal kedua dugaan tersebut. Seorang ibu sakit akibat sihir dan disembuhkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dengan berhasil ditemukannya buhul sihir setelah diruqyah oleh anak laki-laki dan menantunya.

Kisah ini benar-benar nyata dan saya peroleh langsung dari anak laki-laki ibu tersebut.


Sudah beberapa bulan ibu Pak Fulan, sebut saja Ibunda, menderita sakit. Beberapa dokter spesialis sudah beliau datangi. Tidak hanya dokter di kota Ibunda tinggal tetapi juga di kota anak laki-lakinya lain, kakak Pak Fulan. Frekuensi kunjungan ke dokter sudah harus seminggu sekali. Berbagai obat harus Ibunda minum. Sudah puluhan juta dikeluarkan untuk biaya pengobatan tetapi kesembuhan belum juga datang.

Hingga suatu hari Pak Fulan mendapat telpon dari adiknya yang tinggal bersama Ibunda, yang mengabarkan bahwa kondisi Ibunda semakin parah. Tubuhnya lemah, bahkan beberapa kali sempat pingsan. Menurut Pak Mantri, tetangga Ibunda yang dipanggil untuk memeriksa saat pingsan, bahwa lemahnya tubuh Ibunda disebabkan oleh kurangnya makanan yang masuk ke tubuh Ibunda. Saat diperiksa, perut Ibunda dalam keadaan kosong.

Isteri Pak Fulan, sebut saja Bu Fulanah, mengusulkan agar Pak Fulan menjenguk ibunya. Menurutnya, mungkin Ibunda sudah tidak tertolong lagi. Kakak-kakak Pak Fulan yang tinggal di berbagai kota di Jawa juga sudah mulai berdatangan menjenguk Ibunda, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa kondisi Ibunda semakin parah. Sementara sampai saat ini Pak Fulan belum pernah menjenguk karena selama ini isterinya pun juga tidak bisa dikatakan dalam kondisi sehat. Setelah masa kehamilan yang sulit, yang terancam keguguran, Bu Fulanah harus menjaga kondisi kesehatan pasca melahirkan dengan operasi. Bu Fulanah meyakinkan suaminya bahwa saat ini kondisinya sudah membaik sehingga bisa ditinggal  untuk beberapa hari. Bu Fulanah juga menambahkan bahwa mungkin selain kesempatan terakhir bertemu Ibunda, Pak Fulan bisa meruqyah Ibunda. Siapa tahu Allah subhanahu wa ta'ala memberi kesembuhan lewat ruqyah Pak Fulan.

Pak Fulan pun menjenguk Ibunda yang tinggal sekitar 400 km dari kota Pak Fulan. Waktu itu hari Kamis. Tiba di rumah Ibunda setelah Dhuhur. Pak Fulan hampir tidak bisa berkata apa-apa saat melihat kondisi Ibunda. Tubuhnya sangat kurus, hanya tulang dan kulit tanpa daging.

Setelah berbincang-bincang dengan Ibunda, adik Pak Fulan dan suaminya, serta kakak Pak Fulan, Pak Fulan mengetahui lebih rinci tentang kesehatan Ibunda. Awalnya sakit Ibunda hanyalah nyeri di kaki kanan. Beberapa waktu kemudian, hasil laboratorium menunjukkan gula darahnya meningkat yang menyebabkan Ibunda harus puasa gula. Yang memperburuk kondisi Ibunda sebenarnya adalah akibat rasa sakit di kaki tersebut. Ibunda tidak bisa tidur nyenyak dan makan banyak sehingga tubuhnya menjadi kurus dan lemah.

Menjelang Maghrib, Pak Fulan mulai merencanakan meruqyah Ibunda. Beberapa hal yang bisa menghalangi proses ruqyah dihilangkan. Lukisan orang dan binatang, termasuk foto, dilepas atau dibalik menghadap ke dinding. Gambar dan boneka berbentuk binatang ditutupi dengan kertas atau kain. Televisi dimatikan sementara sehingga tidak ada suara musik.

Pulang dari sholat Maghrib, Pak Fulan meruqyah Ibunda. Beberapa ayat Al-Qur'an dibaca Pak Fulan sambil memegangi dahi Ibunda. Hampir 30 menit Pak Fulan meruqyah Ibunda tetapi tidak ada reaksi apapun dari Ibunda. Malahan sepertinya Ibunda tertidur.

Tiba-tiba HP Pak Fulan berdering. Pak Fulan mengambil HPnya yang diletakkan di ruang sebelah dan menerima panggilan dari Bu Fulanah. Bu Fulanah meminta Pak Fulan untuk memeriksa sudut kanan-belakang rumah Ibunda karena tiba-tiba saja dia melihat bayangan yang menggambarkan ada orang menari di sudut kanan-belakang sebuah rumah. Serta-merta Pak Fulan membuka jendela karena kebetulan dia sedang berada di kamar paling belakang dan paling kanan. Saat itu juga, Bu Fulanah mengatakan bahwa orang itu sudah lari. Bu Fulanah juga mengatakan bahwa ada sesuatu berbentuk seperti sarang tawon menempel di dinding dekat sudut itu.

Dengan dibantu suami adiknya, Pak Fulan ke luar rumah dan menuju ke sudut rumah itu. Hanya ada satu jalan dan satu pintu menuju ke tempat itu. Tidak ada lampu penerangan sehingga menyulitkan mereka untuk mencari benda yang dimaksud Bu Fulanah. Apalagi dinding itu belum diplester. Beberapa saat kemudian, Pak Fulan menemukan segumpal tanah yang berukuran tidak lebih dari 3 jari menempel di dinding dekat pintu keluar. Dilihat dari posisinya, adanya tanah yang menempel di dinding bagian itu adalah sebuah kejanggalan. Pagar tinggi yang mengelilingi lokasi itu menghalangi lemparan tanah dari luar yang dilempar secara tidak sengaja. Kemungkinan besar tanah itu sengaja ditempel setelah orang yang menempel melompati pagar batu bata itu.

Pak Fulan memecahkan gumpalan tanah yang sudah mengeras itu. Di dalamnya ditemukan pecahan-pecahan kecil berwarna hitam. Kurang jelas buat Pak Fulan dari benda apa pecahan-pecahan itu berasal. Segera saja Pak Fulan mencari kertas dan kemudian membakarnya di halaman rumah. Sementara itu, Ibunda masih tertidur dan tidak mengetahui segala hal yang dilakukan Pak Fulan itu.

Pak Fulan tidak melanjutkan ruqyah karena khawatir dengan keadaan Bu Fulanah. Ini merupakan pengalaman pertama buat Pak Fulan, yaitu Pak Fulan melakukan ruqyah di suatu tempat dan Bu Fulanah, isterinya, yang tinggal di tempat lain menghadapi gambaran yang menakutkan. Padahal Bu Fulanah hanya ditemani dua anak yang masih kecil.

Keesokan harinya pun Pak Fulan tidak sempat untuk meruqyah Ibunda. Dia sibuk menyiapkan barang-barang bawaan karena siang harinya Pak Fulan dan anaknya harus pulang. Pak Fulan juga tidak memperhatikan perkembangan kesehatan Ibunda setelah diruqyah hingga dia kembali pulang ke rumahnya.

Sehari kemudian, Pak Fulan yang sudah berada di rumah menelpon adiknya yang tinggal bersama Ibunda. Kabar gembira datang. Ibunda sudah bisa tidur lebih nyenyak dan sudah mau makan. Menurut Ibunda, sakit nyeri di kaki sudah berkurang kira-kira 75%. Beberapa hari berikutnya, Pak Fulan mendapat telpon dari kakaknya, yang juga tinggal bersama dengan Ibunda, Kakak Pak Fulan berkata bahwa dia menemukan gumpalan tanah lagi di dinding yang dekat pintu dapur, yang selanjutnya dia bakar.

Akhirnya Pak Fulan meyakini bahwa Ibunda sakit karena sihir. Ada orang yang sengaja mengirim sihir ke beliau. Dan pengirim sihir sepertinya menghendaki kematian Ibunda dengan perlahan-lahan.

Pak Fulan benar-benar tidak menduga hal itu sebelumnya. Selama ini dia melihat bahwa dalam bermasyarakat Ibunda tidak mempunyai masalah dengan tetangga-tetangga sekitar. Bahkan bisa dikatakan hubungan beliau dengan tetangga baik-baik saja. Namun, memang itulah kenyataan dalam masyarakat bahwa seseorang menyakiti orang lain belum tentu karena orang lain itu pernah menyakitinya.


Tidak ada yang pernah mengancam Ibunda untuk disihir jenis santet/teluh ini sehingga baik Ibunda maupun Pak Fulan bisa menduga demikian. Pak Fulan juga bukan orang yang pandai bicara sehingga bisa meyakinkan Ibunda bahwa beliau akan sembuh dengan ruqyah. Tambahan lagi, Pak Fulan hanyalah seorang muslim awam dan bukan orang yang berpengalaman dalam meruqyah orang lain. Yang Pak Fulan sampaikan ke Ibunda hanyalah, "Sakit itu dari Allah. Kesembuhan juga dari Allah. Sudah sepantasnya kita berdoa kepada-Nya untuk meminta kesembuhan." Cukupkah kalimat itu untuk mensugesti Ibunda sehingga sembuh dengan hanya sekali ruqyah saja? Ibunda juga tidak tahu tentang penemuan dan pembakaran buhul yang ditemukan Pak Fulan. Jadi, saat sudah merasak sembuh, Ibunda belum tahu bahwa sakit beliau adalah karena disantet orang.

One Response to “Ruqyah adalah Sugesti?”

  1. idcard murah Says:

    terima kasih informasinya

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>