Taufiq Hidayat

Hidup (incl. Informatika) hanyalah untuk Allah Ta’ala

Bookmark and Share

Ruqyah adalah Sugesti? (Bagian 2)

Posted by Taufiq Hidayat on August 3rd, 2014

Seorang anak kecil belum mengerti apa yang disampaikan atau yang dilakukan orang kepadanya. Apalagi untuk memahami maksud dan tujuan tindakan orang terhadapnya. Dengan demikian, sugesti dalam bentuk kata-kata atau tindakan untuk anak kecil yang sakit tidak bisa berfungsi.

Kisah berikut ini adalah contoh lain bahwa ruqyah bukan sugesti karena sugesti tidak berlaku kepada anak kecil. Kisah ini terjadi pada seorang bayi berumur sekitar 1 tahun.


Bayi perempuan yang baru berumur 1 tahun itu selalu rewel. Ini terjadi sudah lebih dari 1 minggu. Dari lahir, bayi perempuan ini tidak banyak menangis. Orang-orang yang pernah melihatnya pun mengatakan demikian. Namun, saat ini bayi perempuan itu selalu menangis kecuali saat di gendongan ibunya. Biasanya juga dia betah bersama ayah atau kakak laki-lakinya yang lebih tua 10 tahun dan hanya mencari ibunya jika lapar atau haus. Bukannya betah, saat ini bayi itu justeru menangis bila berada di dekat mereka.

Suhu tubuhnya memang lumayan tinggi meskipun tidak ada tanda-tanda sakit flu. Namun, sudah sewajarnya jika orang tuanya tetap menduga bahwa bayi itu sedang sakit. Setelah obat penurun panas tidak memberikan hasil, mereka pun membawanya ke dokter anak. Dua kali mereka membawa ke dokter anak. Hasil yang mereka peroleh sama bahwa bayi itu dalam kondisi sehat. Hasil pemeriksaan laboratorium pun memberikan kesimpulan yang sama.

Sambil menunggu pengobatan yang lain, orang tuanya mencoba mengobati dengan ruqyah. Suatu siang, mereka meruqyahnya. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka melihat bayangan rumah ibunya ketika membaca ayat Al-Qur'an dengan menutup mata. Rumah ibunya berada di propinsi lain, yang jaraknya sekitar 400 km. Rumah itu nampak jelas di matanya. Semakin lama pandangannya terfokus pada bagian teras rumah. Di teras itu, dia melihat ada retakan yang sangat jelas. Retakan itu terlihat sangat dalam. Ada seseorang duduk di atas retakan itu.

Mereka pun menelpon adiknya yang tinggal bersama ibunya. Mereka minta tolong untuk mencari sesuatu yang berada di sela-sela retakan di teras rumah. Awalnya, dia tidak menemukan apapun di salah satu retakan. Namun, akhirnya dia menemukan sebuah jarum tertancap di retakan yang lain. Kakaknya memintanya untuk membakar jarum itu.

Alhamdulillah, tidak lama kemudian, suhu tubuh bayi itu berangsur-angsur turun dan dia sudah tidak rewel lagi. Hanya suasana rumah terasa panas. Tanpa berpikir panjang, mereka meminta adiknya agar mengubur jarum yang tadi dibakar. Tentu saja saat dibakar, jarum itu tidak ikut terbakar. Setelah dikubur, suasana rumah keluarga itu mulai sejuk.

Ayah bayi kecil itu teringat. Dua minggu yang lalu dia bersama isteri dan anak-anak pergi mengunjungi ibu. Waktu itu masih suasana Idul Fitri. Saudara-saudaranya pun masih dalam rangka mudik sehingga rumah ibu masih ramai dengan orang. Bayi kecilnya menjadi pusat perhatian. Banyak yang menggendong dan mengajaknya berkeliling. Lokasi jarum itu menancap adalah salah satu tempat yang bayi itu lewati. Dan, semenjak pulang dari rumah ibunya itulah, bayi perempuan itu menjadi rewel.

One Response to “Ruqyah adalah Sugesti? (Bagian 2)”

  1. Arip Hidayat Says:

    Kalo menurut saya semua pengobatan baik yang tradisional maupun modern semuanya memiliki unsur sugesti. Namun terkait masalah ruqyah menurut saya lebih pada 'menarik' kekuatan X yang ada di luar tubuh. dimana kekuatan X disini merujuk pada kekuasaan Allah SwT

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>